Oktobere, Novembere, Bulan Menjadi Penanda Musim Hujan

Budaya 17 Oct 2026 18:14 • 3 min read • 154 views • By Abdi Khairil
Oktobere, Novembere, Bulan Menjadi Penanda Musim Hujan
Oktobere, Novembere, dan Desembere menyimpan cerita tentang pengetahuan tradisional masyarakat dalam membaca pergantian musim.

BONEPAPER.COM — Jauh sebelum prakiraan cuaca dapat diakses melalui telepon genggam, masyarakat di Sulawesi Selatan telah mengenal cara tradisional untuk membaca perubahan musim. Salah satunya melalui penamaan bulan yang dikaitkan dengan datangnya hujan.

Istilah Oktobere, Novembere, dan Desembere mungkin terdengar seperti pelafalan nama bulan biasa. Namun, di balik istilah tersebut, tersimpan cerita tentang hubungan bahasa, alam, dan kehidupan masyarakat pada masa lalu.

Mengapa disebut Oktobere dan Novembere?

Dalam artikel Klikhijau tentang musim hujan di kanal Kota Makassar, penulis menguraikan kepercayaan masyarakat setempat bahwa November menjadi penanda datangnya hujan. 

Istilah Novembere dikaitkan dengan kata ere, yang dalam penjelasan artikel tersebut berarti air.

Istilah Oktobere juga disebut sebagai penanda awal musim hujan dalam kepercayaan masyarakat Bugis-Makassar.

Pengetahuan semacam ini memperlihatkan bagaimana masyarakat dahulu menghubungkan bahasa sehari-hari dengan gejala alam yang mereka amati berulang kali.

Hujan bukan sekadar peristiwa cuaca. Bagi masyarakat agraris, hujan menentukan kapan tanah mulai diolah, benih ditanam, dan persediaan air dipersiapkan.

Dari bahasa menjadi pengetahuan musim

Dalam kehidupan masyarakat yang bergantung pada pertanian, perubahan musim memiliki arti penting.

Petani perlu memperhatikan datangnya hujan agar kegiatan di sawah dapat dilakukan pada waktu yang tepat.

Pengetahuan mengenai musim kemudian diwariskan melalui pengalaman, kebiasaan, cerita, dan bahasa. Nama bulan menjadi salah satu cara sederhana untuk mengingat periode yang dianggap berkaitan dengan perubahan cuaca.

Pembahasan tentang pengetahuan tradisional tersebut juga dapat ditemukan dalam kajian yang mengutip buku Mattulada, Latoa: Satu Lukisan Analisis terhadap Antropologi Politik Orang Bugis (1995), halaman 20.

Rujukan itu menguraikan hubungan penamaan bulan dengan air serta penggunaan perubahan musim sebagai pedoman bagi kegiatan pertanian.

Meski demikian, istilah dan pemaknaannya perlu dipahami berdasarkan konteks masyarakat yang menggunakannya. 

Pengalaman masyarakat Makassar, misalnya, tidak otomatis menggambarkan pola musim yang sama di seluruh wilayah Sulawesi Selatan.

Bagaimana dengan masyarakat Bone?

Bagi masyarakat Bone, pembahasan ini menarik untuk ditelusuri lebih jauh. 

Sebagai daerah yang memiliki kehidupan pertanian, Bone menyimpan peluang untuk menggali kembali ingatan kolektif petani mengenai tanda-tanda alam dan pergantian musim.

Apakah orang tua di desa-desa di Bone dahulu juga mengenal istilah Oktobere, Novembere, dan Desembere? Apakah istilah itu digunakan sebagai pengingat musim tanam, atau ada penyebutan lain dalam bahasa Bugis setempat? Pertanyaan tersebut layak ditelusuri melalui wawancara dengan petani senior, tokoh budaya, dan masyarakat yang masih mengingat praktik pertanian pada masa lalu.

Dengan begitu, pengetahuan lokal tidak hanya berhenti sebagai cerita, tetapi juga terdokumentasi sebagai bagian dari kekayaan budaya daerah.

Kearifan lokal dan prakiraan cuaca modern

Pengetahuan tradisional merupakan bagian penting dari sejarah hubungan manusia dengan alam. Namun, pengetahuan tersebut tidak sama dengan prakiraan cuaca ilmiah.

Waktu datangnya hujan dapat berubah dari tahun ke tahun. Karena itu, istilah yang diwariskan turun-temurun sebaiknya dipahami sebagai pengetahuan budaya dan pengalaman masyarakat, bukan sebagai jaminan bahwa hujan pasti turun pada bulan tertentu.

Untuk menentukan waktu tanam saat ini, petani tetap perlu memperhatikan informasi prakiraan musim dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), disertai pengamatan kondisi setempat.

Pada akhirnya, Oktobere, Novembere, dan Desembere bukan hanya menarik karena bunyinya.

Istilah-istilah itu membuka pintu untuk memahami bagaimana masyarakat dahulu membaca alam, menyimpan pengalaman, dan mewariskan pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya