Berhenti Menerima PKH, Bukan Karena Kaya: Kisah Nurhidayah Memberi Kesempatan untuk Keluarga Lain

Inspirasi 19 Sep 2026 16:00 5 min read 295 views By Abdi Khairil
Berhenti Menerima PKH, Bukan Karena Kaya: Kisah Nurhidayah Memberi Kesempatan untuk Keluarga Lain
Dari ikan yang dijualnya, ia menyambung hidup. Dari keputusannya, ia memberi kesempatan kepada yang lain. Nurhidayah, KPM PKH graduasi mandiri Desa Kading, Kecamatan Barebbo, Kabupaten Bone.

BONE — Berhenti menerima bantuan sosial tidak selalu berarti seseorang telah hidup serba berkecukupan. Kisah Nurhidayah, KPM PKH graduasi mandiri dari Desa Kading, Kecamatan Barebbo, Kabupaten Bone, justru memperlihatkan sisi lain tentang arti syukur, kerja keras, dan kerelaan memberi kesempatan kepada keluarga lain.

Nurhidayah bersama sejumlah Keluarga Penerima Manfaat (KPM) PKH lainnya mengajukan graduasi mandiri pada bulan Januari 2026. Sebelumnya, ia telah menerima Program Keluarga Harapan (PKH) sejak 2019.

Keputusan untuk keluar dari kepesertaan PKH bukan karena kehidupan keluarganya telah berubah menjadi mewah.

Hidup mereka masih sederhana.

Sang suami masih harus pergi melaut. Nurhidayah masih berjualan ikan di pasar tepatnya jalan Kajaolaliddong (pinggir sungai) Kabupaten Bone. Empat anak masih membutuhkan biaya hidup dan pendidikan.

Namun di tengah segala keterbatasan itu, muncul sebuah kesadaran: jika keluarganya masih mampu berusaha, mungkin kesempatan bantuan bisa diberikan kepada keluarga lain yang lebih membutuhkan.

Suami Berangkat Saat Subuh, Pulang Membawa Hasil Laut

Kehidupan keluarga Nurhidayah sangat dekat dengan laut.

Sang suami bekerja sebagai nelayan dengan perahu kecil miliknya. Ketika waktu Subuh tiba, ia sudah bersiap mencari kepiting yang dalam bahasa Bugis dikenal dengan sebutan maddakkang bukkang suji.
Jika berangkat pagi, ia akan kembali pada siang hari.

Namun ketika memilih berangkat malam, ia baru pulang ketika waktu Subuh.

Hasil tangkapan kemudian langsung dijual kepada pengepul.

Dalam sehari, hasil tangkapan bisa mencapai sekitar Rp200 ribu. Namun jumlah tersebut belum menjadi penghasilan bersih. Sebagian harus digunakan untuk membeli tabung gas yang menjadi bahan bakar perahu kecilnya.

Setelah dikurangi kebutuhan operasional, penghasilan bersih yang diperoleh sekitar Rp150 ribu per hari. Jumlah itu menjadi salah satu sumber penghidupan keluarga.

Nurhidayah Berjualan Ikan dari Pagi hingga Siang

Perjuangan mencari nafkah tidak hanya dilakukan sang suami. Nurhidayah pun memiliki aktivitas sendiri.

Setiap pagi sekitar pukul 06.00 WITA, ia berangkat ke pasar untuk menjual ikan. Ikan tersebut dibelinya sendiri. Terkadang, pemilik tambak mengantarkan ikan langsung kepadanya untuk kemudian dijual kembali.

Keuntungan yang diperoleh tidak selalu sama. Pada Sabtu dan Minggu ketika pembeli lebih ramai, Nurhidayah dapat memperoleh keuntungan sekitar Rp100 ribu dari modal Rp100 ribu.

Namun ketika pasar sepi, keuntungan yang diperoleh terkadang hanya sekitar Rp50 ribu dalam sehari.

Sekitar pukul 11.00, aktivitas berjualan selesai.

Ia kemudian pulang ke rumah untuk kembali menjalankan perannya sebagai seorang ibu.

Di rumah, ada empat anak yang menjadi tanggungannya.

Satu masih balita, satu bersekolah di SD, satu di SMP, dan anak sulungnya sedang menempuh pendidikan SMA.

Dari hasil melaut dan berjualan ikan itulah keluarga ini berusaha memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bukan Karena Sudah Kaya

Di balik keputusan graduasi mandiri tersebut, ada satu hal yang penting untuk dipahami.
Nurhidayah bukan berhenti menerima PKH karena telah menjadi orang kaya. Kehidupannya masih jauh dari kemewahan.

Ia masih melihat rumah yang ditempatinya sebagai rumah sederhana. Namun ia menerima proses graduasi tersebut dengan lapang dada setelah mendapat dorongan dari keluarganya dan melihat kondisi keluarganya berdasarkan proses pemutakhiran data kesejahteraan.

Ada pula obrolan dan masukan dari lingkungan sekitar mengenai kondisi keluarganya yang dinilai sudah memiliki rumah yang layak.

Namun bagi Nurhidayah, persoalannya bukan sekadar soal rumah atau materi.
Ia menyadari masih banyak keluarga lain yang membutuhkan bantuan.

Daripada terus menerima bantuan ketika masih memiliki kemampuan untuk berusaha, ia memilih memberikan kesempatan kepada keluarga lain.
Kesadaran itulah yang membuat keputusan tersebut terasa berbeda.

PKH Pernah Menjadi Bagian dari Perjalanan Keluarganya

Nurhidayah tidak melupakan bahwa PKH telah diterimanya sejak 2019. Program tersebut pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan keluarganya.

Kini, setelah memilih graduasi mandiri PKH, ia berusaha melanjutkan kehidupannya dengan pekerjaan yang selama ini dijalani bersama suaminya.

Tidak ada kepastian bahwa setiap hari akan mendapatkan keuntungan yang sama.

Hasil tangkapan kepiting bisa berbeda.

Pembeli ikan di pasar juga tidak selalu ramai.

Tetapi roda kehidupan tetap harus berjalan.

Suami pergi mencari rezeki di laut.

Istri berjualan ikan di pasar.

Anak-anak tetap sekolah.

Dan kebutuhan keluarga tetap harus dipenuhi.

Sebuah Keputusan Kecil yang Mengandung Makna Besar

Kisah Nurhidayah bukan kisah tentang keluarga yang tiba-tiba menjadi kaya setelah keluar dari PKH.

Ini adalah kisah tentang keluarga sederhana yang mencoba berdiri dengan kemampuan sendiri.
Ia masih harus bekerja keras.

Suaminya masih harus melaut. Ia masih harus berjualan ikan setiap pagi.

Empat anak masih menjadi tanggungannya.

Namun di tengah keadaan itu, ia memiliki kesadaran untuk tidak menggantungkan seluruh kehidupannya pada bantuan sosial.

Baginya, rezeki yang diperoleh dari laut dan pasar patut disyukuri.

Dan ketika ada kesempatan untuk memberi ruang kepada keluarga lain, ia memilih menerimanya dengan ikhlas.

Dari Ikan yang Dijual, Ada Pelajaran tentang Syukur

Kisah KPM PKH graduasi mandiri di Kabupaten Bone ini mungkin sederhana.

Tidak ada rumah mewah.

Tidak ada usaha besar.

Tidak ada penghasilan yang fantastis.

Hanya sebuah perahu kecil, hasil tangkapan kepiting, ikan yang dijual di pasar, dan perjuangan membesarkan empat anak.

Namun justru dari kesederhanaan itu lahir sebuah pelajaran.

Bahwa kemandirian tidak selalu dimulai ketika seseorang sudah memiliki segalanya.

Terkadang, kemandirian dimulai ketika seseorang berani mengatakan:

“Saya masih punya kekurangan, tetapi saya ingin mencoba mencukupi kebutuhan keluarga dengan usaha sendiri.”

Nurhidayah memilih jalan itu.

Ia tidak mengatakan dirinya sudah kaya.

Ia hanya bersyukur dengan rezeki yang diperoleh dan menyadari bahwa masih ada keluarga lain yang mungkin lebih membutuhkan bantuan.

Melepaskan PKH bagi Nurhidayah bukan sekadar keluar dari daftar penerima bantuan.

Ada rasa syukur di dalamnya.

Ada perjuangan di dalamnya.

Dan ada kerelaan untuk memberi kesempatan kepada orang lain.

Bukan karena hidupnya sudah sempurna. Bukan karena keluarganya sudah kaya. Tetapi karena ia percaya, ketika masih mampu berusaha, ada baiknya kesempatan bantuan diberikan kepada mereka yang lebih membutuhkan.

Dari Desa Kading, Kecamatan Barebbo, Kabupaten Bone, kisah Nurhidayah mengajarkan bahwa terkadang hal yang paling menyentuh bukan ketika seseorang menerima, melainkan ketika ia rela melepaskan sesuatu yang masih berarti baginya demi memberi kesempatan kepada orang lain.

Bantuan adalah jembatan. Ketika seseorang mulai mampu melangkah dengan usahanya sendiri, meninggalkan jembatan bukan berarti melupakan kebaikan yang pernah diterima. Bisa jadi, ia sedang memberi kesempatan kepada orang lain untuk menyeberang.