Desil Bukan Sekadar Soal Gaji, Begini Penjelasannya

Kebijakan 17 Aug 2026 18:05 5 min read 12 views By Admin
Desil Bukan Sekadar Soal Gaji, Begini Penjelasannya
Gambaran pembagian Desil

BONEPAPER.COM — Istilah desil belakangan banyak diperbincangkan karena berkaitan dengan pemeringkatan kondisi sosial ekonomi keluarga dan penentuan sasaran berbagai program pemerintah.

Namun, masih banyak yang memahami desil secara sederhana: semakin besar penghasilan, semakin tinggi desilnya.

Pemahaman tersebut perlu diluruskan.

Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Cilegon melalui akun Threads resminya, @bpscilegon, menjelaskan bahwa desil tidak ditentukan hanya berdasarkan pendapatan seseorang atau sebuah keluarga.

Menurut BPS Cilegon, desil merupakan pembagian keluarga ke dalam 10 kelompok berdasarkan peringkat kondisi sosial ekonomi.

Secara sederhana, keluarga terlebih dahulu diurutkan berdasarkan kondisi sosial ekonominya. Setelah itu, keluarga dibagi ke dalam 10 kelompok dengan jumlah yang relatif sama.

BPS Cilegon menggambarkan desil seperti membagi keluarga ke dalam 10 kotak. Kotak pertama merupakan kelompok dengan peringkat kondisi sosial ekonomi paling rendah, sedangkan kotak kesepuluh merupakan kelompok dengan peringkat paling tinggi.

Bukan Ada Batas Gaji untuk Setiap Desil

Hal penting yang ditegaskan BPS Cilegon adalah tidak ada batas penghasilan tertentu atau cut off point yang otomatis membuat sebuah keluarga masuk ke desil tertentu.

Artinya, tidak bisa disimpulkan bahwa seseorang yang berpenghasilan Rp5 juta pasti masuk Desil 3, sementara orang dengan penghasilan Rp20 juta otomatis masuk Desil 8.

BPS Cilegon menjelaskan, yang dilakukan adalah pemeringkatan kondisi keluarga.

Dengan demikian, angka desil lebih tepat dipahami sebagai posisi atau ranking, bukan sebagai kategori berdasarkan batas nominal pendapatan.

Kondisi Keluarga Dilihat dari Banyak Aspek

Lantas, apa yang membuat posisi satu keluarga berbeda dengan keluarga lainnya?

BPS Cilegon menjelaskan bahwa pemeringkatan tidak hanya melihat satu indikator. Ada berbagai variabel yang digunakan untuk menggambarkan kondisi sosial ekonomi keluarga.

Di antaranya kondisi perumahan, kepemilikan aset atau barang, demografi dan pendidikan, ketenagakerjaan, kepemilikan usaha, serta kesehatan.

Karena itu, pendapatan hanya menjadi bagian dari gambaran kondisi sosial ekonomi keluarga secara keseluruhan.

Misalnya, ada dua keluarga yang sama-sama memiliki pendapatan Rp5 juta per bulan.

Keluarga pertama tinggal di rumah sederhana, memiliki banyak tanggungan dan aset yang terbatas. Sementara keluarga kedua memiliki kondisi rumah yang lebih baik, aset lebih banyak dan tanggungan lebih sedikit.

Meskipun penghasilannya sama, posisi kedua keluarga dalam pemeringkatan belum tentu sama.

Begitu pula sebaliknya. Dua keluarga dengan pendapatan berbeda juga dapat berada dalam desil yang sama.

Desil 10 Tidak Berarti Semua Kaya dengan Pendapatan Sama

Penjelasan ini menjadi penting ketika masyarakat melihat kelompok seperti Desil 10.

BPS Cilegon menjelaskan bahwa keluarga yang berada dalam desil yang sama dapat memiliki kondisi ekonomi yang beragam.

Dalam Desil 10, misalnya, terdapat keluarga dengan kondisi ekonomi yang berbeda-beda, mulai dari kelompok menengah hingga keluarga dengan kekayaan yang sangat besar.

Artinya, Desil 10 bukanlah kategori yang menetapkan batas penghasilan tertentu.

BPS Cilegon bahkan memberikan gambaran bahwa dalam satu kelompok desil dapat terdapat keluarga dengan pendapatan jutaan rupiah per bulan maupun keluarga dengan penghasilan yang jauh lebih besar.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa desil tidak dirancang untuk mengatakan seluruh keluarga dalam satu kelompok mempunyai pendapatan atau kekayaan yang sama.

Menurut BPS Cilegon, kontras kondisi ekonomi yang sangat lebar dalam kelompok tersebut juga dapat menjadi gambaran mengenai ketimpangan ekonomi.

Yang Diperingkat adalah Keluarga, Bukan Satu Orang

Hal lain yang tidak kalah penting adalah unit yang dinilai.

BPS Cilegon menegaskan bahwa pemeringkatan desil dilakukan terhadap keluarga, bukan semata-mata terhadap individu.

Karena itu, kondisi ekonomi satu orang anggota keluarga tidak dapat langsung dijadikan satu-satunya dasar untuk menyimpulkan posisi desil keluarganya.

Misalnya, seorang anggota keluarga memiliki penghasilan cukup tinggi. Kondisi tersebut tetap perlu dilihat bersama dengan berbagai karakteristik sosial ekonomi keluarganya.

Inilah alasan mengapa melihat slip gaji atau penghasilan satu orang saja tidak cukup untuk memahami bagaimana sebuah keluarga ditempatkan dalam pemeringkatan desil.

Kenapa Ada 10 Desil?

Untuk memudahkan pemahaman, bayangkan terdapat 100 keluarga.

Setelah seluruh keluarga diurutkan berdasarkan kondisi sosial ekonominya, mereka kemudian dibagi menjadi 10 kelompok.

Masing-masing kelompok berisi sekitar 10 keluarga.

Desil 1 berada pada kelompok dengan peringkat kondisi sosial ekonomi paling rendah.

Desil 10 berada pada kelompok dengan peringkat paling tinggi.

Jadi, semakin besar angka desil, semakin tinggi posisi keluarga dalam pemeringkatan tersebut.

Namun, angka tersebut bukan menunjukkan besarnya pendapatan.

Desil 1 bukan berarti keluarga dengan pendapatan di bawah angka tertentu. Begitu pula Desil 10 bukan berarti keluarga dengan penghasilan di atas angka tertentu.

Bukan Dibandingkan Hanya dengan Tetangga Sekampung

Ada pula anggapan bahwa keluarga hanya dibandingkan dengan keluarga lain di desa atau daerah yang sama.

Dalam penjelasan BPS mengenai pemeringkatan desil nasional, posisi keluarga tidak sekadar ditentukan berdasarkan perbandingan dengan keluarga di lingkungan tempat tinggalnya.

Secara sederhana, keluarga di sebuah desa dapat berada dalam satu sistem pemeringkatan dengan keluarga dari berbagai daerah di Indonesia.

Artinya, keluarga di Bone, Makassar, Cilegon, Jakarta, Papua dan daerah lainnya masuk dalam cakupan pemeringkatan nasional tersebut.

Karena itu, Desil 3 di satu desa tidak otomatis berarti kondisi ekonomi semua keluarga di dalamnya sama dengan Desil 3 di desa lain.

Yang menunjukkan kesamaan adalah posisi kelompok dalam pemeringkatan, sementara kondisi setiap keluarga di dalam kelompok tersebut tetap dapat berbeda.

Jadi, Apa Arti Desil?

Penjelasan BPS Cilegon pada dasarnya mengarah pada satu pemahaman sederhana:

Desil bukan “keluarga dengan penghasilan sekian rupiah”, melainkan posisi keluarga dalam pemeringkatan kondisi sosial ekonomi.

Untuk menentukan posisi tersebut, kondisi keluarga dilihat dari berbagai aspek, bukan hanya pendapatan.

Karena itu, ketika seseorang mengetahui dirinya berada di Desil 3, misalnya, angka tersebut tidak boleh langsung diterjemahkan sebagai “penghasilan saya masuk kategori Desil 3”.

Begitu juga ketika sebuah keluarga berada di Desil 10, bukan berarti semua keluarga di dalam kelompok tersebut memiliki pendapatan dan kekayaan yang sama.

Pemahaman mengenai cara kerja desil menjadi penting agar masyarakat tidak menilai posisi kesejahteraan keluarga hanya dari satu angka pendapatan.

BPS Cilegon menekankan, desil pada dasarnya adalah sistem pemeringkatan kondisi sosial ekonomi keluarga. Jadi, yang perlu dilihat bukan hanya “berapa penghasilannya”, tetapi bagaimana posisi kondisi sosial ekonomi keluarga tersebut dibandingkan dengan keluarga lainnya.