Malam Dingin, Siang Terik: Benarkah Cuaca Membuat Anak Mudah Sakit?

Sains 28 Aug 2026 22:19 5 min read 54 views By Admin
Malam Dingin, Siang Terik: Benarkah Cuaca Membuat Anak Mudah Sakit?
Anak sering sakit karena cuaca? Simak penjelasan jurnal tentang suhu, cuaca panas dan dingin, kondisi Bone, serta tips menjaga

BONEPAPER.COM — Akhir-akhir ini, keluhan tentang anak sakit terasa semakin sering terdengar. Batuk, pilek, demam hingga gangguan pernapasan dialami anak-anak. Di saat yang sama, kondisi cuaca juga terasa berubah: malam hari terasa lebih dingin, sementara siang hari panas menyengat.
Pertanyaan pun muncul: apakah anak sering sakit karena cuaca?
Pertanyaan itu bukan sekadar perasaan orang tua. Ada faktor cuaca yang memang perlu diperhatikan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 28 Agustus 2026 memasukkan Kabupaten Bone dalam wilayah yang perlu mewaspadai potensi udara panas di Sulawesi Selatan. Prakiraan BMKG untuk sejumlah wilayah di Kabupaten Bone juga menunjukkan rentang suhu dan kelembapan yang berbeda-beda menurut lokasi.
Sebelumnya, BMKG juga mencatat bahwa pada dasarian II Agustus 2026, kondisi El Niño berada pada intensitas sangat kuat, sementara sebagian wilayah Sulawesi Selatan masuk dalam peringatan dini kekeringan meteorologis.
Lantas, apakah kondisi tersebut membuat anak lebih mudah sakit?
Cuaca Bisa Berpengaruh, Tetapi Bukan Satu-Satunya Penyebab
Jawaban ilmiahnya perlu hati-hati.
Cuaca tidak secara otomatis menyebabkan anak sakit.
Batuk, pilek, demam dan pneumonia, misalnya, tetap berkaitan dengan penyebab medis seperti infeksi virus atau bakteri. Namun, kondisi lingkungan—termasuk suhu—dapat memengaruhi risiko terjadinya penyakit tertentu.
Salah satu penelitian yang relevan adalah systematic review and meta-analysis yang diterbitkan dalam Frontiers in Pediatrics pada 2024. Penelitian tersebut secara khusus menganalisis hubungan suhu ekstrem dengan pneumonia pada anak.
Hasilnya menunjukkan bahwa variasi suhu berkaitan dengan peningkatan risiko pneumonia. Dalam analisis tersebut, setiap variasi suhu 1°C berkaitan dengan relative risk pneumonia sebesar 1,06 kali, sementara paparan suhu dingin ekstrem berkaitan dengan risiko yang lebih tinggi, yakni sekitar 1,25 kali.
Namun, angka tersebut tidak boleh diterjemahkan menjadi “setiap suhu berubah 1°C, anak pasti terkena pneumonia”.
Yang ditemukan penelitian adalah hubungan statistik antara paparan suhu dan risiko penyakit, bukan kepastian bahwa perubahan suhu menjadi penyebab tunggal penyakit.
Anak Sering Sakit Saat Cuaca Berubah, Apa Kata Penelitian?
Penelitian lain yang diterbitkan pada 2025 melakukan systematic review terhadap 21 penelitian mengenai pengaruh cuaca dan karakteristik lingkungan perkotaan terhadap infeksi saluran pernapasan atas.
Hasilnya menarik.
Sebanyak 11 dari 19 penelitian yang dapat dianalisis menemukan bahwa suhu rendah berkaitan dengan peningkatan risiko infeksi saluran pernapasan. Namun, hubungan antara kelembapan dan infeksi tidak menunjukkan pola yang konsisten.
Artinya, tidak tepat jika semua kasus anak sakit langsung disimpulkan sebagai akibat cuaca.
Ada banyak faktor lain yang ikut menentukan, seperti paparan virus, kondisi rumah, kepadatan hunian, kualitas udara, kebersihan, aktivitas anak dan kondisi kesehatan masing-masing.
Bagaimana dengan Cuaca Panas?
Jika udara dingin perlu diwaspadai, udara panas juga demikian.
WHO menyebut anak sebagai salah satu kelompok yang rentan terhadap dampak panas. Paparan panas berlebihan dapat meningkatkan risiko dehidrasi dan gangguan kesehatan akibat panas.
Dalam konteks Indonesia, perhatian terhadap masalah ini semakin penting.
Pada Juli 2026, WHO bersama Kementerian Kesehatan, BMKG dan sejumlah mitra meluncurkan KATALIS-HEAT, sebuah inisiatif untuk memahami dan merespons dampak kesehatan akibat panas ekstrem di Indonesia.
Artinya, panas bukan sekadar persoalan rasa tidak nyaman. Kondisi panas ekstrem juga merupakan persoalan kesehatan masyarakat.
Jadi, Benarkah Cuaca Membuat Anak Mudah Sakit?
Jawabannya:
Bisa berpengaruh, tetapi bukan berarti cuaca adalah penyebab langsung setiap anak sakit.
Perubahan suhu dan kondisi lingkungan dapat memengaruhi risiko beberapa penyakit. Namun, penyakit infeksi tetap berkaitan dengan agen penyebabnya, sementara kondisi lingkungan dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi risiko.
Karena itu, ketika anak mengalami batuk atau demam, kalimat “mungkin karena cuaca” sebaiknya tidak menjadi kesimpulan akhir.
Cuaca adalah salah satu bagian dari cerita, bukan keseluruhan cerita.
Tips Menjaga Kesehatan Anak Saat Cuaca Berubah
Lalu, apa yang bisa dilakukan orang tua?
1. Pastikan Anak Cukup Minum
Saat udara panas, kebutuhan cairan perlu diperhatikan. Berikan minum secara teratur dan jangan menunggu sampai anak mengalami rasa haus berlebihan.
2. Kurangi Aktivitas Berat Saat Siang Terik
Ketika suhu udara tinggi, aktivitas fisik berat sebaiknya dikurangi, terutama pada waktu terpanas.
Anak tetap boleh bermain, tetapi pilih waktu dan tempat yang lebih sejuk.
3. Pilih Pakaian yang Nyaman
Saat cuaca panas, gunakan pakaian yang ringan dan tidak terlalu tebal. Ketika malam lebih dingin, pastikan anak tetap merasa nyaman.
4. Jaga Sirkulasi Udara di Rumah
Rumah yang terlalu panas dan pengap bukan kondisi ideal. Pastikan sirkulasi udara berjalan dengan baik.
5. Biasakan Cuci Tangan
Jangan lupa bahwa banyak penyakit saluran pernapasan berkaitan dengan infeksi. Kebiasaan mencuci tangan dan menjaga etika batuk tetap penting untuk mengurangi risiko penularan.
6. Perhatikan Kondisi Anak
Anak yang mulai lemas, tidak mau minum, mengalami kesulitan bernapas atau menunjukkan kondisi yang tidak biasa membutuhkan perhatian lebih.
Jangan langsung menyimpulkan bahwa semuanya hanya akibat perubahan cuaca.
7. Segera Cari Pertolongan Jika Ada Tanda Bahaya
Jika anak mengalami sesak atau kesulitan bernapas, sangat lemas, kejang, tidak mau minum, mengalami penurunan kesadaran atau kondisinya semakin memburuk, segera cari pertolongan medis.
Jangan Takut pada Cuaca, Tetapi Kenali Risikonya
Malam yang terasa dingin dan siang yang terasa menyengat memang membuat tubuh harus beradaptasi.
Data BMKG menunjukkan bahwa kondisi atmosfer di Sulawesi Selatan pada Agustus 2026 juga dipengaruhi kondisi El Niño yang sangat kuat dan adanya wilayah yang mendapat peringatan kekeringan meteorologis. Kabupaten Bone sendiri masuk dalam wilayah yang perlu mewaspadai potensi udara panas pada 28 Agustus 2026.
Tetapi, dari sudut pandang kesehatan, kita tidak perlu buru-buru menyalahkan cuaca.
Cuaca mungkin ikut memengaruhi risiko. Namun kesehatan anak ditentukan oleh banyak faktor.
Karena itu, ketika anak sakit, jangan berhenti pada kalimat:
“Mungkin karena cuaca.”
Lebih baik kita bertanya:
Apa penyebabnya? Apa yang bisa dilakukan? Dan kapan anak perlu diperiksa?
Sebab menjaga kesehatan keluarga bukan tentang takut terhadap perubahan cuaca, melainkan memahami risikonya dan meresponsnya dengan tepat.

Sumber: BMKG, WHO, Frontiers in Pediatrics, dan systematic review terkait cuaca dan infeksi saluran pernapasan.